penjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih itu bernama,' fatmawati.

  • PCM Sepanjang
  • 18 Agu 2020, 11:09:29 WIB
penjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih itu bernama,' fatmawati.

Penjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih itu bernama,''fatmawati".

Fatmawati (5 Februari 1923 – 14 Mei 1980) adalah putri dari pasangan Hasan Din dan  Siti Chadijah. Ia lahir di kampong Pasar Malabero Bengkulu. Beliau dibesarkan dalam lingkungan yang taat beragama. Hasan Din adalah seorang Konsul Muhammadiyah Bengkulu. Beliau juga seorang pegawai perusahaan milik Belanda di Bengkulu (Borneo Sumatera Maatschappij). Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan terbesar milik Belanda di Indonesia saat itu.Sedangkan Ibu Siti Chadijah adalah aktifis ‘Aisyiyah Cabang Bengkulu.

Fatmawati yang bernama asli Fatimah (lahir di Bengkulu, 5 Februari 1923 – meninggal di Kuala Lumpur, Malaysia, 14 Mei 1980 pada umur 57 tahun)  adalah istri dari Presiden Indonesia pertama Soekarno. Ia menjadi Ibu Negara Indonesia pertama dari tahun 1945 hingga tahun 1967 dan merupakan istri ke-3 dari Presiden Pertama Indonesia, Soekarno. Ia juga dikenal akan jasanya dalam menjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih yang turut dikibarkan pada upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945.

Fatmawati kecil telah mempelajari agama Islam antara lain membaca dan menulis Alquran kepada datuknya dan kepada seorang guru agama Islam. seperti tertera  Didalam buku, “100 Tokoh Muhammadiyah yang Menginsipirasi”, Ketika berusia enam tahun, Fatmawati dimasukkan ke Sekolah Gedang (SekolahRakyat), namun kemudian dipindahkan ke HIS, sekolah berbahasa Belanda (1930). Ketika duduk di kelas tiga, Fatmawati dipindahkan lagi oleh ayahnya ke sekolah HIS Muhammadiyah.

Kepintarannya membaca Alquran sudah kelihatan dari kecil,  ia juga  sangat supel dalam bergaul. Kepintarannya membaca Alquran pernah ditunjukkan pada pembukaan Kongres Muhammadiyah di Palembang tahun 1936. Hingga Pengajar Program Studi Kearsipan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Wahjudi Djaya, menggambarkan, “Bu Fatmawati jago membaca Al-Quran di Muktamar Muhammadiyah,” kata Wahjudi.